Dataran Tinggi Dieng, September 2010 (Part.2)

Ga lama kemudian mas Yoga sampe di alun-alun dan nemuin kami berdua. Kami pun diajak ke rumahnya di daerah kreteg, Wonosobo. Sekitar 20 menit kami sampe di rumahnya. Dan senengnya disambut kaya ada sodara dari jauh yang baru dateng. Bener-bener udah terasa akrab walaupun selama ini cuma ngobrol di kaskus.salut!
Lalu kami disuguhi makan siang yang bener-bener nikmatt, menu makanan rumahan tapi terasa enak karena laperrrr (dan gratis )
Berselang beberapa menit kemudian datanglah rombongan temen-temen regional Semarang, sekitar 8 motor. Dan inilah pertama kali nya juga ketemu temen-temen kaskuser dari Semarang, dan anehnya lagi saat ketemu bener-bener seperti temen lama yang akhirnya ketemu lagi.aneh.

suasana di depan rumah YoGreat setelah kedatangan temen-temen Reg.Semarang


sambil istirahat&ngobrol-ngobrol

Lalu karena dirasa badan gerah dan gatel karena belom mandi dari kemaren akhirnya gw mandi di rumah YoGreat. Air di bak mandi nya langsung dari mata air alami, tanpa pompa air dan rasanya segeeeeeeeeeeer banget. Dingin alami dan nyegerin. Beres mandi ternyata Reg Semarang mau pada makan siang dulu di warteg sekitar situ karena memang belum makan siang, dan gw stay di rumah YoGreat buat tidur-tiduran,lumayan bisa sekalian tidur siang sebentar.
Ga lama kemudian,setelah sholat Dzuhur berjamaah di Masjid kami berangkat. Karena hujan lalu turun, kami semua pake jas hujan,dan bersiap naik ke Dieng. Tapi ternyata motor salah satu dari kaskuser regional Semarang bermasalah dan terpaksa dibawa ke bengkel. Dan kami pun menunggu disini.

lalu karena waktu ashar hampir tiba, kami memutuskan untuk menunggu di SPBU saja.

saat menanti waktu ashar di SPBU Wonosobo

akhirnya setelah sholat ashar, dan motor yang tadi rusak selesai di perbaiki, kami pun melanjutkan perjalanan ke Dieng melalui wonosobo kota, awalnya direncanakan naik melalui Tambi, jalur alternatif yang lebih menantang, tapi karena hujan dan khawatir terjadi apa-apa maka diputuskan melalui jalur utama saja. Riding di sore hari di waktu hujan deras dan jalanan yang terus menanjak yang membuat suhu udara semakin dingin, tangan gw sampe terasa lagi di celupin di bak air es karena emang dinginnya ga boongan, puncak? ga ada apa-apanya beberapa kali gw iseng naro tangan kiri gw dibawah pantat buat sedikit ngasih efek hangat, tapi percuma kalo kaya gini pengen megang knalpot deh rasanya
Sekitar sejam dengan diiringi derai hujan yang tak kunjung henti akhirnya kami tiba di penginapan Lestari di Dieng. Akhirnya.

 Penginapan lestari letaknya ga jauh setelah masuk ke komplek Wisata Dieng. Tempatnya berada di sebuah jalan kecil di sebelah kanan jalan. Begitu memasuki komplek wisata Dieng ada pangkalan ojek milik warga sekitar. Dan kebanyakan dari mereka tau rumah-rumah maupun penginapan yang biasa dikunjungi wisatawan. Termasuk Penginapan Lestari yang kami tempati.
Udara dingin yang telah menyambut kami sore ini sejak berangkat dari Wonosobo tadi terasa semakin menusuk. Dibawah guyuran hujan riding di suhu rendah,mungkin berkisar antara 10-15 derajat Celcius.

Setelah merapikan motor kami di parkiran yang tidak terlalu luas, gw dan temen-temen langsung bergegas untuk ke ruangan atas tempat kami akan menginap. Di tempat ini terdapat beberapa kamar mandi yang semuanya berada di bawah. Dan beberapa di antaranya tersedia air hangat untuk mandi. Dan sore itu setelah beberapa orang mandi (gw sih ga mandi karena dingin, dan kebetulan tadi sebelum berangkat kesini juga udah mandi) kita berkumpul di ruangan atas. Ruangan bagian atas ini terdiri dari semacam ruang keluarga, dengan TV,dan dua kamar termasuk kasur dan bantal juga selimut yang semua sudah disediakan. Sore hari yang dingin diluar, terasa sungguh hangat di dalam.


pose yang aneh


di dalem penginapan

Dan segelas jahe panas menemani asyiknya ngobrol santai sambil nonton TV dan ketawa ketiwi. Ga lama kemudian dateng santapan sore yang juga hangat, mie instan rebus yang masih panas. Semua orang tampaknya ga mau menyia-nyiakan kesempatan, tangan-tangan cekatan karena kelaparan dan ditambah dinginnya udara dengan cepat mengosongkan baki yang tadi penuh dengan mangkok-mangkok mi rebus. Dan tentu gw juga ga boleh ketinggalan. Makan mi rebus di ketinggian sekitar 2100 meter dari permukaan laut, di antara perkebunan bermacam-macam sayur mayur dengan hujan yang masih terus setia membasahi bumi,tentunya adalah sebuah kemewahan. Meski bagi sebagian diantara kami yang merupakan anak kost dan mahasiswa,makan mi instan bisa jadi sudah jadi seperti menu sehari-hari, tapi disini terasa istimewa. Karena dimakan bersama dengan teman-teman jauh, yang baru kali ini berkumpul secara langsung, yang biasanya hanya di dunia maya, kini di dunia nyata. Terasa tanpa jarak.

Setelah dengan gesitnya tangan-tangan dan mulut yang tadi kelaparan kini berubah wajahnya menjadi sumringah. Kenyang bisa menimbulkan efek relaksasi. Nyaman. Karenanya sore itu hanya kami habiskan dengan tidur-tiduran sambil beberapa orang menghisap batang-batang rokok, dan bagi yang berperut lebih dari 1 masih sibuk mengunyah gorengan panas yang tadi dibeli,termasuk gw,hahaha. Dan dengan cepatnya sang gorengan hangat berubah jadi seperti gorengan kemarin yang baru diambil dari lemari es.

Selepas sholat maghrib ternyata telah tersedia sebuah nasi tumpeng,lengkap dengan lauk-pauk pelengkap seperti perkedel,telur maupun tempe. Wah, ternyata rekan-rekan Regional Semarang yang mengusulkan ide makan tumpeng ini, sebagai simbol rasa syukur, karena akhirnya kami bisa mengadakan Gathering yang terdiri dari beberapa regional ini untuk pertama kalinya.


tumpeng ajib


sambutan dari tuan rumah/panitia


prosesi pemotongan tumpeng


rebutan deh

Setelah kenyang makan nasi tumpeng, kami berjalan-jalan di sekitar penginapan. Dan ternyata meski hari belum terlalu malam, suasana disini sudah begitu sepi. Hanya beberapa orang pemilik warung yang masih terlihat menunggui warungnya,dan ada juga penjual CD lagu yang menyetel lagu dengan volume cukup kencang, lumayan memecah sepi malam ini.

mejeng,hehe

Setelah bosan diluar dan juga angin yang semakin ga bersahabat, kami kembali ke penginapan. Sebagian orang mengobrol,sebagian lagi nonton tv, tapi gw segera cari tempat yang pewe untuk tidur malam ini. Karena memang sebagai orang jauh disini, gw dari Bandung dan rifaye dari Jakarta yang mungkin ngerasa paling cape atau ngantuk. Karena gw sejak kemaren baru sempet tidur sekitar 2 jam. Akhirnya di sebuah pojokan ruangan yang berbentuk seperti huruf L, gw membaringkan badan, segera memakai jaket,kaos kaki dan menarik selimut dan dalam beberapa menit udah ada di posisi ternyaman di dunia untuk tidur. Dan bener aja, ga sampe lima menit mungkin gw langsung tertidur dengan lelapnya. Ga terbangun sama sekali di jam berapapun malam itu. Bener-bener seperti bayi yang baru pulang ngebajak sawah sehari semalem. Emang sih rasa capek nya belum seberapa. Tapi rasa ngantuknya yang ga bisa ditahan, karena kurang istirahat sejak kemaren.

Tanpa terasa hari mulai terang, matahari memunculkan warna keemasan yang tipis dengan nuansa ungu dan abu-abu yang mendominasi karena sebagian besar tertutup awan mendung. Sudah jam setengah 6 rupanya. Gw bener-bener tidur pules. Mewah bener lah. Bangun pagi setelah mengucap alhamdulillah masih diberikan kesempatan untuk hidup setelah tidur semaleman gw buru-buru ambil wudhu dan sholat Subuh, meski kesiangan. Setelah sholat, gw baru sadar ternyata orang-orang di ruangan ini tinggal sebagian, dan semuanya masih tidur-tiduran. Karena ga merasa capek dan ga merasa ngantuk lagi, badan dan pikiran udah bener-bener di refresh hasil tidur semalem dari jam 8 sampe jam setengah enam.

Segera gw turun ke bawah. Dengan ga lupa bawa kunci motor dan pake jaket 2 lapis. Dan ternyata bener sebagian motor menghilang. Pasti pada asyik jalan-jalan pagi nih mereka. Ga lama gw coba hidupin motor gw dengan tuas choke ditarik penuh ke atas, dan dengan mudahnya mesin motor gw menyala. Dan kemudian gw baru kepikiran, sepertinya mereka akan menuju ke bukit sikunir, untuk mengejar sunrise. Tapi, buru-buru gw urungkan analisis gw itu karena melihat langit tertutup mendung di waktu sepagi itu. Karena gw mencoba menelpon ke beberapa temen gw, doni Hyozhoka, lalu menelpon rifaye-arif wahyu ga juga diangkat,sms ga dibales, yang belakangan baru gw tau ternyata handphone mereka berdua ditinggal di penginapan. Akhirnya gw jalan-jalan sendiri aja, pengen liat-liat lokasi sekitar daerah wisata ini. Meski dua bulan yang lalu gw udah sempet kesini bareng temen kampus, Cuma karena kurang persiapan dan minimnya waktu saat itu, gw dan temen-temen jaman kuliah sampe di Dieng udah kesorean, yang akhirnya ga kebagian jalan-jalan. Ditambah ban motor kawasaki ZX-130 Edwin waktu bocor, akhirnya jauh-jauh ke dieng Cuma untuk cari tukang tambal ban. Susah pula nyarinya,hahaha.

Balik lagi ke cerita hari ini, udara pagi masih terasa begitu dingin. Ga salah tadi pake jaket berlapis. Akhirnya setelah muterin daerah itu, ketemu lah sama om Victor dan Hyo yang dari tadi gw cariin, ketemu di sekitar SPBU satu-satu nya di Dieng.
Gw tanya yang lain kemana,ternyata ga tau juga soalnya tadi udah mencar Akhirnya setelah muter-muter, kembali ke penginapan. Yang ternyata udah pada bangun dan sebagian lagi di kamar mandi. Selepas mandi kita pun disuguhkan sarapan nasi goreng dengan telor ceplok plus krupuk. Ga lama kita makan bareng dan kemudian siap-siap untuk menuju lokasi-lokasi wisata yang ada disini.

sarapan bareng

penginapan di pagi hari

Setelah semua selesai mandi pagi termasuk gw yang akhirnya mandi setelah terakhir mandi kemaren sore, akhirnya kami bersiap-siap menuju obyek wisata yang ada di kawasan wisata Dieng ini. Suasana minggu pagi nan sepi, tak begitu banyak pengunjung di waktu sepagi ini, jalanan di kawasan wisata dieng masih terlihat begitu lengang. Penduduk sekitar sibuk melakukan aktivitas paginya masing-masing. Dan tujuan pertama kami pagi itu adalah menuju kawasan Candi Pandawa. Setelah membayar retribusi di pos masuk wisata kami segera menuju kawasan candi pandawa.


parkiran candi


di candi,full team

Letak candi ini berada tak jauh dari penginapan, dan semua obyek wisata disini berada dalam jarak yang relatif dekat.
Setelah puas berfoto di kawasan candi Pandawa nan asri, kami melanjutkan wisata pagi ini berturut-turut ke kawah sikidang dan ke telaga warna,yang konon warna airnya bisa berubah pada waktu-waktu tertentu. Namun pagi itu warna air tampak kehijauan.

Tadinya sih mau ke puncak bukit dimana bisa melihat telaga secara keseluruhan dari atas,tapi gak jadi karena pertimbangan waktu yang semakin siang.


di parkiran kawah sikidang,bareng Jakarta Owners Yamaha Scorpio

telaga warna

….bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s